Instalasi dan konfigurasi OpenJDK dapat dilakukan dengan beberapa cara, tergantung dengan sistem operasi yang kita gunakan. OpenJDK dapat berjalan di semua sistem operasi berbasis LinuxmacOS, maupun Windows


Untuk mengikuti kelas ini, kami sarankan Anda untuk menggunakan OpenJDK versi 13.0.2 untuk menghindari kesalahan yang mungkin saja terjadi. Versi OpenJDK yang kami sarankan dapat diunduh pada halaman http://jdk.java.net/archive/ dengan menyesuaikan sistem operasi yang digunakan.
Untuk proses instalasi, Anda bisa mengikuti beberapa langkah panduan berikut:

Linux dan macOS

Cara untuk menginstal OpenJDK pada Linux dan macOS bisa dikatakan mirip. Kita bisa melakukannya secara manual, melalui PPA atau bisa juga dengan SDKMAN. Dari ketiga cara tersebut, cara yang paling kami rekomendasikan adalah dengan menggunakan SDKMAN.
SDKMAN sendiri adalah sebuah tools yang bisa digunakan untuk mengatur versi dari SDK secara paralel. Ia tersedia di sebagian besar sistem operasi berbasiskan Unix, termasuk Linux dan macOS. 
Sebelum melakukan instalasi OpenJDK dengan SDKMAN, pastikan SDKMAN sudah terinstal pada sistem operasi yang Anda gunakan.
Berikut adalah langkah-langkah untuk menginstal SDKMAN pada Linux ataupun macOS:
  1. Pastikan Anda sudah melakukan instalasi paket Curl. Jika belum, jalankan perintah berikut pada terminal:

    1. sudo apt install curl


    Ikuti instruksinya sampai proses instalasi selesai.
  2. Setelah itu, jalankan perintah berikut untuk instalasi SDKMAN:

    1. curl -s "https://get.sdkman.io" | bash


  3. Kemudian, jalankan perintah berikut:

    1. source "$HOME/.sdkman/bin/sdkman-init.sh"


  4. Untuk memastikan SDKMAN berhasil diinstal, gunakan perintah berikut:

    1. sdk version


    Seharusnya terminal akan menampilkan versi SDKMAN seperti di bawah ini:

    1. SDKMAN 5.7.4+362



Sampai di sini komputer Anda sudah memiliki SDKMAN versi terbaru dan siap digunakan untuk menginstal OpenJDK.
Nah untuk instalasi OpenJDK via SDKMAN, caranya sangat sederhana. Anda hanya perlu menjalankan perintah berikut pada terminal:

  1. sdk install java 13.0.2-open


Tunggu hingga proses instalasi selesai dan Anda telah berhasil menginstal JDK. Untuk melihat semua versi JDK yang dapat di-install, kita bisa menjalankan perintah berikut:

  1. sdk list java


Terminal akan menampilkan daftar versi JDK kurang lebih seperti berikut::
20200407155027ea8b023127255d890185a3da7b362f66.png
Pada gambar di atas terdapat keterangan bahwa komputer kita sedang menggunakan OpenJDK versi 13.0.1-open. Jika Anda ingin mengganti versi JDK yang sebelumnya sudah pernah di-install, Anda bisa menggunakan perintah berikut:

  1. sdk default java <another-version>


Ubah <another-version> dengan versi yang Anda inginkan, misalnya 12.0.2-open. Lalu periksa kembali menggunakan perintah berikut:

  1. sdk current java


Terminal akan menampilkan pesan seperti berikut:

  1. Using java version 12.0.2-open


Untuk memastikan apakah kita sudah berhasil melakukan instalasi OpenJDK, Anda bisa menjalankan perintah java -version. Pastikan terminal menampilkan versi dari Java seperti berikut:

  1. openjdk 13.0.2 2020-01-14

  2. OpenJDK Runtime Environment (build 13.0.2+8)

  3. OpenJDK 64-Bit Server VM (build 13.0.2+8, mixed mode, sharing)



Windows

OK Anda telah mengunduh binary OpenJDK untuk Windows. Sekarang ekstrak berkasnya ke dalam folder C:\Program Files (x86)\Java. Jika tidak ada folder Java, tambahkanlah secara manual. Selanjutnya, Anda juga perlu mengatur lokasi folder OpenJDK pada Environment Variable. Ikuti langkah-langkah berikut:
  1. Buka Control Panel kemudian masukkan system variable pada kolom pencarian.
  2. Pilih Edit the system environment variables pada hasil pencarian.
  3. Pada jendela yang tampil, klik tombol Environment Variables yang berada di bawah.
  4. Fokus pada bagian User variables, klik tombol New.
  5. Setelah terbuka, masukkan JAVA_HOME pada kolom variable name dan lokasi folder Java pada variable value.
    20200120162154d5ec9bf8525b3b91fd4d0332a2d1f18d.png
  6. Setelah itu, klik OK.
  7. Masih pada jendela Environment Variables, pilih variable path yang berada pada bagian System Variable kemudian klik Edit.
  8. Setelah jendela baru terbuka, klik tombol New dan masukkan %JAVA_HOME%\bin lalu klik OK.

    2020012016251986dfc17b7deb9919099255661e68c329.png
  9. Klik OK pada jendela Environment Variables.
  10. Buka Command Prompt kemudian jalankan perintah echo %JAVA_HOME%. Pastikan yang tampil adalah lokasi folder Java yang sudah kita atur seperti berikut:
    20200120162740637b99b99657097c5839a7eac55a1618.png
Untuk memastikan apakah instalasi sudah berhasil, jalankan perintah java -version pada Command Prompt. Pastikan versi dari Java dapat ditampilkan seperti berikut. 
20200120163131afb459b82fb7febe5123e9b326498c55.png
Namun jika yang tampil ternyata adalah pesan javac is not recognized, pastikan kembali lokasi yang diatur pada Environment Variable sudah benar. Jika dirasa sudah benar tapi masih menampilkan eror yang sama, Coba jalankan Command Prompt sebagai administrator seperti yang dicontohkan di atas


Persiapan dan Instalasi

Pada tahap pertama, tentunya kita perlu menyiapkan beberapa tools yang dibutuhkan untuk membangun program dengan Kotlin. Beberapa tools itu bisa kita kategorikan ke dalam SDK, IDE, dan build tools.

Software Development Kit (SDK)

SDK merupakan seperangkat alat pengembangan perangkat lunak yang digunakan untuk mempermudah pengembangan aplikasi dalam platform tertentu. Setiap platform biasanya menyediakan SDK khusus, misalnya Android dengan Android SDK-nya, iOS dengan iOS SDK-nya, ataupun Java dengan JDK-nya. Dengan SDK tersebut, developer dapat mengakses fitur khusus dari masing-masing platform. Terdapat juga SDK di luar platform seperti Google SDK, Facebook SDK, dll yang bisa diintegrasikan ke aplikasi.
Untuk Kotlin, karena ia berjalan diatas JVM, maka ia sama seperti Java. Kotlin menggunakan JDK sebagai SDK-nya dan JRE untuk menjalankan program aplikasi.
JDK, JRE dan JVM sendiri terlihat sama karena ketiganya merupakan inti dari bahasa pemrograman Java. Meski terlihat sama, masing-masing dari ketiganya, punya peran sendiri-sendiri. JDK (Java Development Kit) adalah sebuah perangkat lunak yang menyediakan beberapa tools untuk pengembangan dan berkas binari yang diperlukan untuk proses kompilasi dari kode Java ke bytecode.
Selanjutnya, JVM atau Java Virtual Machine bertanggung jawab untuk melakukan konversi bytecode kedalam bahasa mesin. JVM juga menyediakan fungsi inti dari Java seperti memory managementgarbage collectionsecurity dan sebagainya. JVM disebut virtual karena memiliki antar muka yang tidak bergantung pada sistem operasi dan perangkat keras yang menjadi dasar dari JVM itu sendiri.
Terakhir, JRE atau Java Runtime Environment, merupakan implementasi dari JVM yang menyediakan sebuah platform untuk menjalankan program. Berbeda dengan JDK dan JVM, JRE tidak menyediakan tools untuk pengembangan seperti kompiler, debugger dan sebagainya. Tetapi JRE diperlukan untuk menjalankan program.
Pada dasarnya setiap JDK yang bisa kita gunakan, punya basis OpenJDK dan bersifat open-source. Yang membedakannya adalah bagaimana JDK tersebut didistribusikan. Contoh distribusinya bisa dari Oracle (OracleJDK), OpenJDK Distribution atau Azul Zulu JDK. 
Pada akademy ini kita akan menggunakan JDK yang didistribusi oleh OpenJDK Distribution karena bisa digunakan secara gratis dengan lisensi personal. Nah untuk JRE, kita tidak perlu melakukan instalasi secara terpisah karena sudah terdapat di dalam paket instalasi OpenJDK.

Build Tools

Selanjutnya adalah build tools, perangkat lunak yang akan kita gunakan untuk membantu mengotomatisasi proses. Seperti misalnya pemaketan dari proyek yang kita akan kembangkan. Selain kompiler command line dan IntelliJ IDEA, Anda juga dapat menggunakan Ant, Maven, dan Gradle sebagai build tools-nya. Dari ketiga build tools tersebut, Gradle lah yang paling sering digunakan. Pasalnya, ia cukup fleksibel dalam membantu proses kompilasi.
Gradle sendiri merupakan sebuah perangkat lunak open-sources yang bisa kita gunakan untuk berbagai macam keperluan dalam pengembangan aplikasi. Dalam menuliskan skrip Gradle, kita bisa menggunakan Groovy atau Kotlin DSL. Gradle mendukung proses pengunduhan dan konfigurasi secara otomatis dari sebuah dependensi atau library lain. Selain itu, Gradle berfokus pada fleksibilitas dan kinerja sehingga memungkinkan kita untuk membangun sebuah aplikasi dengan mudah. 
Gradle memiliki beberapa fitur yang cukup penting, seperti performa yang cukup stabil dan sudah didukung oleh beberapa IDE terkenal seperti Eclipse, NetBeans, Android Studio dan Intellij IDEA. Untuk mengetahui lebih dalam tentang keunggulan dalam penggunaan Gradle, silakan membacanya pada tautan ini.

Integrated Development Environment (IDE)

Proses pengembangan aplikasi tak lepas dari bantuan IDE. Memang tanpa IDE kita tetap bisa membuat program dengan text editor. Namun, fitur-fitur yang IDE tawarkan akan membuat proses pengembangan menjadi jauh lebih mudah dan efisien. 
Pada umumnya IDE menyediakan beberapa fitur seperti text editor yang akan kita gunakan untuk menulis kode, tools untuk mengotomatisasi proses build dari program yang kita buat dan sebuah debugger yang akan membantu kita mendeteksi dan memperbaiki kesalahan yang terdapat pada program. Terdapat berbagai macam IDE yang mendukung pengembangan dengan bahasa pemrograman Kotlin seperti IntelliJ IDEAAndroid StudioEclipse, dan NetBeans. Dari semua IDE tersebut, IntelliJ IDEA dan Android Studio lah yang paling direkomendasikan. Anda bisa menggunakan IntelliJ IDEA untuk pengembangan aplikasi secara umum dan Android Studio untuk pengembangan aplikasi Android.
Pada akademi ini kita akan fokus menggunakan IntelliJ IDEA. IntelliJ IDEA dikembangkan oleh pengembang yang sama dengan Kotlin, yaitu JetBrains. Tentunya ada kompatibilitas yang lebih antara keduanya. Bahkan JetBrains juga menyediakan tutorial khusus untuk memulai Kotlin menggunakan IntelliJ IDEA. Anda bisa membacanya di tautan ini. Dengan dukungan fitur yang mumpuni, IntelliJ IDEA dapat membantu kita menyelesaikan program yang sedang kita kembangkan dengan cepat.
Intellij IDEA memiliki dua versi yang dapat kita gunakan untuk pengembangan aplikasi, yaitu versi Ultimate dan Community. Versi Ultimate ditujukan untuk pengembangan aplikasi lebih lanjut. Pada akademi ini kita akan menggunakan versi Community untuk belajar Kotlin


Berbicara mengenai ekosistem, di Indonesia sendiri Kotlin mulai ramai digunakan sejak tahun 2017. Pada tahun itu juga Kotlin ditetapkan sebagai bahasa pemrograman resmi pada salah satu platform yang juga sangat terkenal, yaitu Android. 


Walaupun sebenarnya sebelum tahun 2017 juga ada developer yang sudah mulai menuliskan kodenya dengan Kotlin.
Selain dikenal sebagai bahasa pemrograman yang ringkas dan praktis, dukungan multiplatform pada Kotlin mampu membuat Kotlin mudah diterima di berbagai kalangan developer. Untuk developer yang mempunyai latar belakang sebagai programer Java, C#, JavaScripts, Scala, maupun Groovy, mereka akan bisa mudah beradaptasi dengan Kotlin, karena Kotlin memang terinspirasi dari beberapa bahasa pemrograman tersebut. Beberapa perusahaan besar seperti SquarePinterestBasecamp dan Corda pun sudah menggunakan Kotlin dan dengan bangga mengumumkannya secara publik.
Sejak diumumkannya Kotlin sebagai bahasa pemrograman untuk Android pada Google I/O 2017, tak sedikit developer Android yang mencoba untuk mempelajari Kotlin. Apalagi di tahun 2019 ini semua update terbaru pada Android selalu menggunakan Kotlin pada dokumentasinya. Tentu saja banyak developer Android yang juga sudah beralih dari Java ke Kotlin. Sepertinya pengumuman dari Google tersebut sangat berpengaruh terhadap animo developer Android dalam menggunakan Kotlin. Bahkan sampai ada yang mengira bahwa Google-lah yang mengembangkan Kotlin.
Tak hanya di luar negeri, di Indonesia pun Kotlin dikenal sangat melekat dengan Android. Ini ditunjukkan dengan banyaknya developer yang berdiskusi di komunitas online maupun offline mayoritas adalah developer Android. Antusiasme developer Android di Indonesia untuk belajar Kotlin sangatlah besar. Dicoding pun mengakomodasi antusiame ini dengan merilis akademi Kotlin Android Developer Expert (KADE) pada April 2018. Kelas KADE ini kini sudah menghasilkan banyak lulusan. Kami sangat bangga akademi tersebut menjadi kurikulum resmi yang digunakan pada Google Developer Kejar 2018.
Saat ini, banyak aplikasi yang dikembangkan dengan Kotlin. Mulai dari startup yang baru mulai dirintis sampai perusahaan yang sudah memiliki title Unicorn seperti GO-JEK, Tokopedia, dan Bukalapak.
20190404165657aa53495a1aec47e5f4a1301aba2462f9.png

Selanjutnya, hal yang juga sangat berpengaruh pada perkembangan ekosistem Kotlin adalah Komunitas. Baik di luar negeri atau pun di Indonesia, setiap harinya komunitas online selalu ramai dengan diskusi-diskusi seputar Kotlin. Tak jarang juga komunitas yang mengadakan acara offline secara rutin. Ini pertanda komunitas Kotlin, sangat kuat. Dengan banyaknya developer expert yang peduli membagikan ilmunya, akan mempermudah teman-teman developer yang baru untuk mulai belajar Kotlin.
Berikut adalah beberapa kanal komunitas yang bisa Anda ikuti untuk mendapatkan update rutin seputar Kotlin:

Banyaknya komunitas yang berkontribusi untuk Kotlin membuat bahasa tersebut berkembang sangat pesat. Kotlin dinobatkan sebagai “Fastest growing languages” oleh GitHub Octoverse 2018 mengalahkan Rust, Go, dll.
20190404165926eb9fab41413f9eb8449a55a2dda46441.png

Kami harap semoga akademi ini juga bisa berkontribusi untuk mengembangkan ekosistem Kotlin di Indonesia

Untuk kenal lebih dalam sebuah bahasa pemrograman, tentu kita harus mengetahui karakteristik dari bahasa tersebut. Kotlin adalah bahasa pemrograman yang ringkas, aman, pragmatis dan difokuskan pada interoperabilitas dengan bahasa Java. 


Kotlin berjalan lancar dengan semua library dan frameworks Java yang sudah ada. Tentunya Kotlin juga memiliki karakteristik tersendiri yang membuatnya disukai oleh banyak developer. Mari kita bahas bersama beberapa karakteristik tersebut.

Modern and Concise

Kotlin dikenal dengan bahasa modern yang ringkas untuk dituliskan. Kotlin mampu memangkas berbaris-baris kode menjadi hanya beberapa baris saja. Seperti kita ketahui, programer menghabiskan banyak waktunya untuk membaca dan menuliskan kode. Ketika kita sedang mengembangkan sebuah aplikasi, hal yang pertama kita lakukan pastinya adalah membaca kode. Baik kode dari sebuah dokumentasi atau pun kode yang sudah ada pada proyek yang sedang dikerjakan. Membaca atau menuliskan kode yang ringkas dan mudah dipahami tentunya menjadi sebuah keuntungan sendiri bagi seorang programer.
Semakin ringkas sebuah kode, maka semakin cepat pula untuk kita pahami. Selain ringkas, faktor lain seperti penamaan fungsi juga akan sangat berpengaruh. Kotlin memiliki fungsi-fungsi bawaan yang namanya mudah diingat. Bahkan pilihan keyword yang terkesan sangat sederhana. Mari kita perhatikan perbandingan antara Kotlin dan Java berikut:
Java:

  1. public class SomeClasses{

  2.     public static void main(String[] args){

  3.         System.out.println("Hello");

  4.     }

  5. }


Kotlin:

  1. class SomeClasses{

  2.     fun main(){

  3.         println("Hello")

  4.     }



“Hal apa yang pertama kali Anda lihat ketika melihat 2 (dua) kode di atas?”.
“Kotlin tidak memerlukan semicolon atau tanda titik koma (;)”.
Ya benar, itu adalah salah satu ciri dari Kotlin. Sederhana, tapi tak jarang programer dibuat pusing karena lupa menambahkan semicolon di akhir kode ketika ngoding dengan Java. Kode di atas memiliki kegunaan yang sama namun dituliskan dengan bahasa pemrograman yang berbeda. Terlihat dengan sangat jelas bahwa kode yang dituliskan dengan Kotlin lebih ringkas dan lebih mudah dipahami, bukan? Nah, itu belum seberapa. Pada akademi ini Anda akan melihat banyak contoh kode yang menunjukan bahwa Kotlin adalah bahasa yang sangat ringkas.
Kotlin juga dibekali dengan beberapa standard library seperti higher-order functionextension function, dll yang membuat penulisan kodenya semakin ringkas. Semuanya akan kita pelajari satu per satu pada akademi ini.

Pragmatic

Sebuah bahasa pemrograman bisa dikatakan pragmatis jika mampu mengatasi masalah dengan praktis. Kotlin dikembangkan berdasarkan permasalahan-permasalahan yang sering dialami oleh programer di JetBrains. Tanpa mengesampingkan saran dan feedback dari komunitas, dalam setiap rilisnya Kotlin selalu memperbarui fitur-fitur yang ada demi solusi praktis bagi programer.
Selain ringkas ditulis, hal lain yang membuat Kotlin bisa dikatakan pragmatis adalah dukungan tools yang sangat membantu proses penulisan kode. JetBrains menambahkan dukungan Kotlin pada IntelliJ IDEA beserta plugin-plugin yang disesuaikan dengan setiap fitur yang ada pada Kotlin.
Plugin yang ada pun mampu menuntun programer untuk mempelajari fitur-fitur pada Kotlin. Sebagai contoh, kita bisa mengkonversi kode Java menjadi Kotlin secara otomatis hanya dengan melakukan copy-paste kode saja pada berkas Kotlin. Dengan begitu, secara tidak langsung kita bisa belajar seperti apakah jika sebuah kode pada Java dituliskan dengan Kotlin. Contoh lain, IntelliJ IDEA mampu menampilkan peringatan pada sebuah kode yang penulisannya kurang tepat. Tak hanya itu, setiap peringatan selalu disertai dengan saran perbaikan. Tentunya kita akan belajar bagaimana seharusnya sebuah kode dituliskan pada Kotlin.
Pada modul selanjutnya kita juga akan mempelajari secara lebih lengkap bagaimana peran IDE dalam mendukung Kotlin sebagai bahasa yang praktis

Safe

Seperti apakah pengertian “aman” dalam sebuah bahasa pemrograman? Apakah “aman” artinya kita bisa membuat aplikasi yang tidak mudah dibobol? Tentu tidak. Ketika seorang programer menuliskan banyak kode untuk membangun aplikasi, akan ada saatnya programer tersebut bertemu dengan beberapa masalah. Masalah yang muncul pun bermacam-macam. Mulai dari kode yang eror, proyek tak berhasil di-build, atau bahkan fitur yang tak berfungsi semestinya. Apakah ini yang akan kita bahas? Tidak, kita belum akan membahas masalah-masalah tersebut di sini.
Dengan berjalannya Kotlin di atas JVM, keamanan dari sisi memori lebih terjamin. Begitu keamanan dari sisi masalah lain yang bersumber dari kesalahan penggunaan memori yang dialokasikan secara dinamis. Di samping itu Kotlin juga menjamin bahwa tingkat keamanan lebih tinggi dibandingkan dengan Java. Misalnya, ketika ingin mendeklarasikan sebuah tipe pada Kotlin, baik tipe data, argumen, ataupun lainnya, Kotlin mampu menyimpulkan tipe tersebut secara otomatis. Sehingga kita tidak perlu menuliskannya secara eksplisit. Tentunya ini akan sangat membantu, karena banyak juga masalah yang disebabkan oleh kesalahan deklarasi tipe tersebut.
Lebih dari itu, Kotlin mampu memeriksa kesalahan pada saat kompilasi, sehingga memungkinkan kita untuk mencegah kesalahan tersebut. Yang paling hebat, Kotlin menghilangkan NullPointerException yang sering disebut sebagai “The billion dollar mistake” oleh programer Java. Kotlin membedakan antara objek yang boleh null atau tidak boleh null pada saat objek itu dibuat. Tentunya juga menyediakan beberapa solusi untuk penulisannya. Fitur tersebut dikenal dengan Null Safety. Sebagai contoh, kode berikut:

  1. var a : String = "Kotlin"

  2. a = null //kompilasi error


Secara default, Kotlin mengasumsikan nilai dari sebuah properti tidak boleh null. Oleh karena itu, kode pada baris kedua akan langsung dianggap eror. Namun seringkali kita tidak bisa menghindari bahwa sebuah data ternyata null, apalagi ketika kita mengkonsumsi data yang didapatkan dari server. Kita pun bisa menetapkan sebuah properti nullable dengan menambahkan tanda (?) pada tipe datanya. 

  1. var a : String? = "Kotlin"

  2. a = null


Properti a sekarang bisa ditetapkan sebagai nullable, dan untuk mengaksesnya kita perlu menerapkan sebuah mekanisme untuk menghindari kesalahan kompilasi. Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan. Semuanya akan dibahas pada modul terpisah.

Statically Typed

Seperti yang tertulis http://kotlinlang.org dan juga di awal akademi ini, Kotlin termasuk ke dalam bahasa pemrograman statically typed. Artinya setiap ekspresi di dalam sebuah program dapat dikenali pada saat kompilasi. Kompiler juga bisa memastikan bahwa semua fungsi yang ingin diakses terdapat pada objek yang digunakan. Hal ini berbeda dengan beberapa bahasa pemrograman lain yang juga berjalan di atas JVM seperti Groovy dan JRuby. Kedua bahasa tersebut termasuk ke dalam bahasa pemrograman dynamically typed.
Di sisi lain, jika dibandingkan dengan Java yang juga merupakan bahasa pemrograman statically typed, Kotlin memungkinkan kita untuk tidak menuliskan tipe variabel secara eksplisit. Ini akan menghindarkan kita dari kesalahan seperti salah menuliskan tipe data atau yang lainnya. Sebagai contoh:

  1. val company = "dicoding"


Tanpa menuliskan tipe data String secara eksplisit, kompiler secara otomatis akan mengetahui bahwa variabel company merupakan sebuah String. Sebabnya, variabel tersebut diisi dengan nilai String. Tentunya ini juga membuat kode yang dituliskan menjadi lebih ringkas. Fitur tersebut dinamakan dengan type inference, yaitu sebuah mekanisme yang dijalankan oleh kompiler untuk menyimpulkan tipe dari sebuah context.
Selama ini, terdapat banyak perdebatan mengenai statically typed atau dynamically typed yang bagus dalam hal produktivitas. Tentunya banyak juga perbedaan pendapat dari para developer. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing. Berikut adalah beberapa keunggulan dari bahasa pemrograman statically typed:
  • Mengakses sesuatu akan lebih cepat karena kita tidak perlu mencari tahu fungsi mana yang perlu dipanggil;
  • Karena kompiler menjamin kebenaran program, peluang untuk crash saat runtime akan berkurang;
  • Pengetikan statis memungkinkan proses refactoring yang lebih mudah, apalagi dengan dukungan tool yang hebat seperti auto complete dan yang lainnya;
  • Lebih mudah untuk bekerja dengan relasional database dan sistem lain yang juga bergantung pada pengetikan statis.

Selain itu, Kotlin juga mendukung function type, yang nanti akan kita pelajari pada modul functional programming.

Free and Open-Sources

Bagi pegiat open-sources dan developer pada umumnya, hal ini tentunya sangat menguntungkan. Kompiler, librarytools, dan terutama Kotlin itu sendiri bebas untuk diakses gratis. Seperti yang sudah disebutkan di awal akademi, Kotlin mempunyai lisensi Apache 2.0. Anda pun bisa memantau atau berkontribusi untuk pengembangan Kotlin pada repo-nya di https://github.com/jetbrains/kotlin. Beberapa IDE yang bisa Anda gunakan seperti IntelliJ IDEA, Android Studio dan Eclipse juga termasuk ke dalam open-sources software.
Saat ini sudah terdapat ratusan developer yang berkontribusi dengan ribuan commit-nya pada pengembangan Kotlin. Jika Anda tertarik untuk berkontribusi, tersedia juga panduan yang lengkap pada tautan ini. Semakin banyak kontribusi dari developer-developer hebat, tentunya Kotlin akan menjadi kian powerful